Langsung ke konten utama

Postingan

nyuap

Kau berselera menyantap apa Rabu ini? martabak manis senyummu saat mengeja sajakku, rujak bumbu kemesraan saat kau dan aku menyusupi Bandung merajam kepenatan, bolu gulung kemolekan mimpi yang kau arsir padaku kemarin, roti isi kebersediaan kau menunggu aku memahat setiap hina yang mengakar menjadi harum yang merayu, atau berirama denganku tanpa terbelai kata pulang? tapi kuberi secarik syarat! martabak manis, rujak bumbu, bolu gulung, roti isi, bahkan aku, harus direlungmu dengan selamat ya? karena, aku mau menyuapmu mulai hari ini, setiap hari. Sampai kau ingin aku.

Nang Jogja

Jogjakarta mengayom Desember. Angkringannya membuai angkasa jiwa si penulis sajak kala itu, disuguhi jamuan malam, diiring gamelan pak Joko, pak Romo, pak Sopo? (sok tahu, padahal belum bertegur sapa!) melarut apa yang mencengkram, membius siapa yang merongrong. Wedang Rondenya sehangat senyum lakon-lakon yang ia rindu bersemayam dalam lubuk. Ada kah satu diantara mereka yang akan menjadi pemenang pinta? Mbak penjual Bakpia Pathok berkerudung cokelat? Mas rupawan penghuni kampus idaman? Atau mister-mister penganut Apartheid (mungkin) yang selalu ia lihat di film laga? Menyongsong pusara nyata, ia terhempas sejenak, lupa, terlalu banyak menerka. "mas, saya mau pesan!" "saya memesan kepastian, masih ada?" Masnya hanya tersenyum rupanya, menganyam kecut, tidak seindah Malioboro malam itu. Kembali penulis sajak itu melambung "ah, pesananku bukan disini ya?" [24 Desember 2018]

rumah (sakit)

tempat yang paling aku benci. bukan, bukan karena banyak pendahuluku yang meninggalkan jasadnya (setiap yang hidup akan terbujur kaku dengan gelar baru bernama "mayat", tunggulah giliranmu!), bukan karena disana sumber ide film-film baru dibioskop kesayangan pasangan dimabuk asmara (suster ngesot, dokter ngesot, apoteker ngesot, apalah apalah itu, aku tak takut!), bukan juga karena darah-darah kesukaan vampir (katanya) atau ruang operasi (antara hidup dan mati). aku benci rumah (sakit), dia tempat paling tak berperasaan di dunia. dia tempat paling tak manusiawi. tangis, tawa, bahagia, haru, marah, dan berbagai perasaan ala manusia lainnya ada di satu tempat yang sama. di hari yang sama, ada seorang ibu yang menangis karena ada malaikat kecilnya yang terlahir melihat dunia, dan seorang anak yang menangis karena malaikat berdada bidangnya yang tak bisa lagi melihat dunia. di hari yang sama, ada seorang wanita yang diberi kutukan "tak bisa punya anak" da...

Turun!

Aku menyelami diri (lagi, dan lagi) hanya karena tak piawai melihat arah kompas (hidupku) sehingga aku tersesat (lagi, dan lagi) Aku lupa meletakkan ranting dan daun kering di setapak nestapaku sehingga aku kehilangan petunjuk untuk kembali pulang (lagi, dan lagi) Aku bersimbah darah hanya karena menusukkan duri-duri keniscayaan di sekujur aliran hidup dan matiku hanya karena masih menyimpan pundi-pundi (percaya itu) Aku menopang asa-asa ditengah asa yang ingin putus (katanya) dan bersembunyi di ketakutan belukar yang tak kunjung ditebas (kebaikan) Aku masih bersemayam tepat di runtuhan kesakitan dan mencari hari kebangkitan terciptanya kendali untuk para (dia) yang naif, buta rasa. Dan kamu, masih berayun tepat diatas kebiadaban para (dia) yang dendam kesumat penuh siasat ingin melesat (di panggung sandiwara). Ikut denganku, akan kunobatkan dirimu dengan kasih, sayang, dan cinta. Jangan merayap di panggung kedustaan itu! Turun! Sudah aku siapkan singgasana untukmu...