Langsung ke konten utama

Turun!

Aku menyelami diri (lagi, dan lagi) hanya karena
tak piawai melihat arah kompas (hidupku) sehingga aku tersesat (lagi, dan lagi)

Aku lupa meletakkan ranting dan daun kering di setapak nestapaku
sehingga aku kehilangan petunjuk untuk kembali pulang (lagi, dan lagi)

Aku bersimbah darah hanya karena menusukkan duri-duri keniscayaan
di sekujur aliran hidup dan matiku hanya karena masih menyimpan pundi-pundi (percaya itu)

Aku menopang asa-asa ditengah asa yang ingin putus (katanya) dan bersembunyi di
ketakutan belukar yang tak kunjung ditebas (kebaikan)

Aku masih bersemayam tepat di runtuhan kesakitan
dan mencari hari kebangkitan terciptanya kendali untuk para (dia) yang naif, buta rasa.
Dan kamu, masih berayun tepat diatas kebiadaban para (dia) yang dendam kesumat
penuh siasat ingin melesat (di panggung sandiwara).

Ikut denganku, akan kunobatkan dirimu dengan kasih, sayang, dan cinta.

Jangan merayap di panggung kedustaan itu!
Turun!
Sudah aku siapkan singgasana untukmu melihat lakon-lakon ajaib terkoyak skenario culas (itu).

Bersenandunglah tanpa hati dan biarkan mereka berperan tanpa iba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CUKA

Lukanya masih basah, kau siram cuka pula. Tidak puas, masih kau siram air garam. Katanya supaya pulih Tapi masih kau tusuk jarum-jarum itu. Lukanya semakin menganga, kau masih disini. Puas melihat aku yang merangkak karena jatuh terlalu dalam? Masih tertatih aku jadinya. Iya, ada lembah yang kau ciptakan khusus untukku. Untuk aku, orang yang percaya dengan cinta. Jadi salah siapa? Salah percaya, dengan, atau cinta? Ah sudahlah, sudah berbuih aku mengutuk cinta. Lebih baik aku hardik dengan saja.

balik

akan tiba kala dimana cucur peluh menghalau musuh, asa yang terkoyak kembali utuh, kenang yang redup menjelma penyuluh, kasih yang terberai merajut asuh, Dan kamu yang berkelana jauh akan hinggap bersembunyi di benteng pundakku tanpa suruh, sembari berkata "aku kembali padamu!"

[DIRACUN]

Di umur yang sudah tidak bisa ikut lomba bayi sehat lagi, tidak bisa main odong-odong lagi, tidak bisa main masak-masakan lagi, Sudah saatnya meninggalkan orang yang hanya membuatmu menangis, merana, gusar, tidak tentu arah, dan tidak memastikanmu baik-baik saja. Sudah saatnya di umur yang sebegitu dewasanya, kamu harus membiarkan pergi orang-orang yang meracunmu dan membuat hatimu begitu tersiksa. Hidupmu terlalu berharga untuk menyelesaikan koalisi-koalisi bejat, muka yang begitu banyaknya, perlakuan yang tidak adil, dan apa saja yang menjadikan hidupmu begitu berkerikil. Tidak apa hanya menyisakan satu atau dua orang saja yang bisa menemanimu, kelak kamu akan menilai apa yang baik dari satu berlian dengan ribuan jarum. [18, dewasakah aku?]