Langsung ke konten utama

Nang Jogja

Jogjakarta mengayom Desember.
Angkringannya membuai angkasa jiwa si penulis sajak kala itu,
disuguhi jamuan malam,
diiring gamelan pak Joko, pak Romo, pak Sopo? (sok tahu, padahal belum bertegur sapa!)

melarut apa yang mencengkram,
membius siapa yang merongrong.
Wedang Rondenya sehangat senyum lakon-lakon yang ia rindu bersemayam dalam lubuk.
Ada kah satu diantara mereka yang akan menjadi pemenang pinta?
Mbak penjual Bakpia Pathok berkerudung cokelat?
Mas rupawan penghuni kampus idaman?
Atau mister-mister penganut Apartheid (mungkin) yang selalu ia lihat di film laga?

Menyongsong pusara nyata,
ia terhempas sejenak,
lupa,
terlalu banyak menerka.

"mas, saya mau pesan!"
"saya memesan kepastian, masih ada?"

Masnya hanya tersenyum rupanya,
menganyam kecut,
tidak seindah Malioboro malam itu.

Kembali penulis sajak itu melambung "ah, pesananku bukan disini ya?"

[24 Desember 2018]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CUKA

Lukanya masih basah, kau siram cuka pula. Tidak puas, masih kau siram air garam. Katanya supaya pulih Tapi masih kau tusuk jarum-jarum itu. Lukanya semakin menganga, kau masih disini. Puas melihat aku yang merangkak karena jatuh terlalu dalam? Masih tertatih aku jadinya. Iya, ada lembah yang kau ciptakan khusus untukku. Untuk aku, orang yang percaya dengan cinta. Jadi salah siapa? Salah percaya, dengan, atau cinta? Ah sudahlah, sudah berbuih aku mengutuk cinta. Lebih baik aku hardik dengan saja.

balik

akan tiba kala dimana cucur peluh menghalau musuh, asa yang terkoyak kembali utuh, kenang yang redup menjelma penyuluh, kasih yang terberai merajut asuh, Dan kamu yang berkelana jauh akan hinggap bersembunyi di benteng pundakku tanpa suruh, sembari berkata "aku kembali padamu!"

[DIRACUN]

Di umur yang sudah tidak bisa ikut lomba bayi sehat lagi, tidak bisa main odong-odong lagi, tidak bisa main masak-masakan lagi, Sudah saatnya meninggalkan orang yang hanya membuatmu menangis, merana, gusar, tidak tentu arah, dan tidak memastikanmu baik-baik saja. Sudah saatnya di umur yang sebegitu dewasanya, kamu harus membiarkan pergi orang-orang yang meracunmu dan membuat hatimu begitu tersiksa. Hidupmu terlalu berharga untuk menyelesaikan koalisi-koalisi bejat, muka yang begitu banyaknya, perlakuan yang tidak adil, dan apa saja yang menjadikan hidupmu begitu berkerikil. Tidak apa hanya menyisakan satu atau dua orang saja yang bisa menemanimu, kelak kamu akan menilai apa yang baik dari satu berlian dengan ribuan jarum. [18, dewasakah aku?]