Langsung ke konten utama

[p i s a h]

Kadang kita tidak harus benci pada perpisahan.
Bohong, saya benci perpisahan.
Bukannya setiap manusia tidak mau berkenalan dengan perpisahan?
Suami istri takut perpisahan, persahabatan takut dengan keretakan dan pengkhiatanan, band musik favoritmu takut dengan kata-kata "bubar", Indonesia takut bercerai-berai, dan manusia takut melepas kehidupan fananya dengan kematian yang abadi.

Perpisahan adalah penyakit setelah pertemuan.
Semua manusia pasti akan memilih 'lebih baik'.
Lebih baik menderita daripada harus berpisah,
lebih baik terkhianati daripada harus berpisah,
lebih baik berderai air mata daripada harus berpisah,
lebih baik tidak pernah bertemu daripada harus berpisah,
dan lebih baik seperti ini.

Dan ternyata skenario Tuhan mengajarkan sesuatu yang tidak diberi gurumu,
tidak diberi oleh buku pelajaranmu,
tidak diberi oleh motivarormu,
tapi diberi oleh untaian hidupmu dengan alur yang mengagumkan.

Perpisahan, tidak selamanya kelabu, tidak selamanya disambut berkabung, tidak selamanya diiringi upacara dukacita. Perpisahan harus disyukuri sebagai babak terbaik Karangan-Nya.

Saya bersyukur dipertemukan dengan perpisahan.
Terkadang kita harus melepaskan yang terbiasa untuk sesuatu yang luar biasa. Terimakasih perpisahan, dan kamu yang mengukir rangkaian kata pisah itu, karenamu saya sekarang bahagia,
disini,
dengannya,
yang dikirimkan Tuhan setelah perpisahan itu,

selamanya.



Badit, masih di Bandung, 05 April 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

balik

akan tiba kala dimana cucur peluh menghalau musuh, asa yang terkoyak kembali utuh, kenang yang redup menjelma penyuluh, kasih yang terberai merajut asuh, Dan kamu yang berkelana jauh akan hinggap bersembunyi di benteng pundakku tanpa suruh, sembari berkata "aku kembali padamu!"

Segores Rasa, kemarin.

Jangan menggebu-gebu menyatu dengan perasaanmu kawan! Dia itu fana. Yang didukung hari ini, besoknya menjatuhkan. Yang dibanggakan hari ini, besoknya dicaci maki. Yang dimiliki hari ini, besoknya sirna. Yang dicintai hari ini, besoknya mengkhianati. Hari ini "Dia paling terbaik dan yang terakhir dihidupku!", besoknya "Aku tidak mau mengenal dia, dia bukan siapa-siapa lagi!" Cinta dan benci hanya semburat tipis dilangit senja. Ia bagai dua sisi uang koin. Kalau kamu dapat cinta, Bingo! Ini adalah hari keberuntunganmu. Kalau benci yang hadir, kamu akan mengutuk cinta. Bersabarlah dalam mencintai, memiliki, mengasihi dan segala perasaan yang kamu angkuhkan itu, agar kelak kamu tidak hancur dikemudian hari. [Badit dan Segores Rasa, hari ini.]